Wednesday, August 25, 2010

Wanita Yang Dicintai Suami ku..


A friend has a copy of the file, so i forward it to my blog. I don't know whether it's a true story or not but the message is great. Enjoy

07 Mei 2009 jam 16:15
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan eggrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

" Mario, suamiku....

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....

Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukaimu.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

Aku tidak peduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima"

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "

Disurat yang kesekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.. .....

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlempar, Tante..... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya Meisha ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari betapa kita mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in peace...)







Best Regards,

Friday, July 2, 2010

Unity in Diversity


The title represents Indonesia's motto which in Sanskrit is Bhinneka Tunggal Ika. I'd like to correlate the term in foortbal, since last night i watched one of the great match of two big teams, Netherlands vs Brazil. And since i hate Brazil with their superiority among other teams for years, i think it's time for Dutch now. And God hear my pray, Dutch won over Brazilian.
Nice thing about unity in diversity is during this World Cup people put their big screen TV in their terrace, and laid a mat so that many people can watch together. In warungs and security guard post people sit and stand around the TV, they don't ask each other name, they don't ask what's each other business, they don't bother why they stand near to the TV screen just because they have the same thing in common: the football match.
i was experiencing my first outdoor giant screen football match live in Taman Bungkul Surabaya yesterday when i realized that what i saw was just beautiful. Hundreds of people gathered, and all eyes focused on the screen. Though we don't support the same team but everything looked great, we didn't even yell at the lose team supporter.
The gathering, the same common, the differences of economy background, status, job, interests, political party, sex, skin color, were just magnificent.
The big question is: if my fellow Indonesian (represented by Surabaya people in the park last night) are just so united in the name of football match, why can't they become more tightly bound in unity in the name of "peace"? Same question to all people in this world. I bet that everyone chose peace above football. If we glorify football so much then why don't we glorify peace much more?
Can we change?

Thursday, July 1, 2010

Survival of The Fittest


2 July 2010
I'd like to share about my experience in using public transportation (read:bus). Every Monday morning and usually on Wednesday morning i take a bus to go to Surabaya from my hometown, Mojokerto. It is just an ordinary day when dozens of people are waiting for the bus in the bus shelter inside the bus station.
when the bus come, prepare to fight to get into the crowded bus. And stand up for 20 minutes (if i am lucky enough) or get the seat just 15 min before the hitting place (still lucky, coz sometimes i stand until the destination).
There are things that supposed to be noticed by the bus-taker:
1st, when the bus is crowded, try to get into the middle (inner) part of the bust do not just stand near the exit/entrance door.
2nd, give opportunity for others to find space though it means they might step a bit on your feet.
3rd, tolerate!!
4th, if you sit give space beside your seat so that the "stander" can lean on their arms or back a bit on your seat. (so if you don't want others to lean on your seat, don't sit near the gangway.
5th, be a gentleman (if you're a man), give your seat to the lady, if there are few ladies next to you, give it to the oldest one.
I met a neat, good looking gentleman in the bus and he stood just like i did, but when someone left the seat and get out of the bus, the man took the seat while i was standing next to him. CRUEL!! He's not a real gentleman.
So what law rules the bus passengers? Survival of the Fittest-the nature law

Tuesday, June 29, 2010

Pendidikan Yang Membebaskan


Sebuah film apik besutan sutradara Rajkumar Hirani, 3 Idiots, membuka hati dan pikiran saya akan kebebasan dan pendidikan. Film ini bercerita tentang kehidupan tiga mahasiswa Imperial College of Engineering, sebuah universitas teknik terkemuka di India, dan permasalahan yang mereka hadapi: sebuah sistem pendidikan yang mengekang kebebasan berpikir, menekan, dan mendasarkan kompetisi untuk menjadi nomer satu. Di universitas tersebut, siapa yang lulus pada setiap mata ujian dipastikan akan mendapatkan pekerjaan bergengsi dan posisi terhormat di masyarakat. Sebaliknya mereka yang gagal dipastikan menjadi orang-orang kalah yang tidak berguna.
Adalah sebuah kebanggaan tak ternilai bagi orang tua Farhan, Mahasiswa dari golongan ekonomi menengah jika putra mereka bisa kuliah di universitas bergengsi. Walaupun Farhan sendiri tidak mempunyai kecintaan pada teknik, ia mencintai fotografi. Sayangnya orang tua dan lingkungan sekitarnya menganggap insinyur adalah pekerjaan yang teroandang dan mampu mengangkat harkat dan derajat seseorang. Raju, sahabat Farhan, mahasiswa dari keluarga miskin menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya. Gelar insinyur adalah satu-satunya harapan bagi keluarganya untuk meningkatkan kehidupan ekonomi kelaurga. Beban ini memberikan tekanan dan ketakutan akan kegagalan yang luar biasa bagi Raju. Sebaliknya, Rancho, tokoh sentral dari film ini, yang bersahabat dengan Farhan dan Raju digambarkan sebagai sosok yang sangat menikmati belajar, sangat mencintai ilmu pengetahuan, haus akan pengetahuan baru, tidak mudah menyerah, dan memaknai semua pengetahuan yang didapatnya.
Tokoh kunci lainnya, rektor ICE adalah rektor sekaligus pengajar yang disiplin, berorientasi pada hasil, tujuan, rangking, dan kesuksesan akademis. Sang rektor sangat disiplin dan mengutamakan nilai sebagai pencapaian yang maha penting. Baginya hidup adalah persaingan. Siapa yang tidak mampu bertahan dalam sistem maka ia akan tergilas. Kesuksesan dimenangkan dengan memenangkan persaingan dan menjatuhkan yang lemah. Pendidikan adalah alat untuk mengantarkan sesorang mencapai kehidupan yang lebih baik hanya bagi mereka yang mampu bekerja seperti mesin. Bekerja keras, mengikuti semua pola dan aturan, berjalan sesuai dengan apa yang diajarkan, dan terus menerus berkompetisi.
3 Idiots adalah kritik bagi sistem pendidikan yang menekan dan mengekang. sistem pendidikan ini hanya menghasilkan mesin, yaitu siswa yang tidak mempunyai kemampuan menganalisis sebuah permasalahan dan bekerja hanya sesuai dengan panduan yang ada. Mesin tidak mempunyai hati, pikiran, dan akal budi. Seluruh organ difungsikan untuk menyelesaikan tugas, keberhasilan tanpa cacat dan nirkesalahan. Sistem pendidikan yang hanya mengunggulkan kesuksesan dari segi akademis inilah yang meracuni jiwa seorang pelajar.
Kompetisi dan tekanan bukanlah sesuatu yang sepantasnya diberikan kepada siswa secara berlebihan. Sekolah, universitas, dan institusi pendidikan yang lain seharusnya menjadi tempat siswa menikmati proses belajar dan memaknai segala sesuatu yang mereka pelajari. Tekanan akan menjadi yang nomer satu di kelas, yang terbaik, kompetisi yang diunggulkan hanya akan menghasilkan siswa-siswa yang tertekan dan “mati”. Digambarkan dalam film ini seorang mahasiswa yang ditekan oleh tanggung jawab keluarganya menjadi insinyur pertama di desanya berbuah upaya bunuh diri karena sang rektor menolak memberikan tenggat waktu lebih pada sang mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Di dunia faktanya berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Arizona State University, diperkirakan 11% dari mahasiswanya memutuskan bunuh diri. Antara bulan September sampai Maret 2010 enam mahasiswa pada Cornell University memutuskan untuk bunuh diri. Depresi adalah penyebab utamanya, tekanan dari tugas kuliah, tuntutan orang tua dan masalah adaptasi dengan lingkungan dan rekan belajar adalah beberapa penyebab utamanya. Raju tokoh mahasiswa lain dalam film ini mendapat tekanan yang luar biasa besar untuk mengangkat harkat keluarganya dengan menjadi insinyur dan lulusan universitas terkemuka ICE. Farhan, dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi insinyur walaupun sebenarnya ia ingin menjadi fotografer. Tekanan-tekanan ini mengerdilkan keindahan pendidikan yang seharusnya mengangkat harkat hidup orang apapun cita-cita orang tersebut.
Pendidikan seharusnya menciptakan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, kehausan mencari pengetahuan baru, dan kesukacitaan memecahkan permasalahan dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki. Bersekolah dan belajar seharusnya merupakan kegiatan yang menyenangkan yang tidak memenjarakan siswa dalam bangunan yang disebut sekolah. Bersekolah dan belajar seharusnya juga tidak mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan kemampuan, kekayaan, dan segala kekhasan pada diri masing-masing siswa. Semua siswa mempunyai keistimewaannya sendiri. Pengajar dan orang tua seyogyanya mengasuh para siswa dengan tidak menyamaratakan kemampuan dan minat siswa. Dengan dukungan penuh keluarga dan suasana belajar yang memerdekakan pemikiran siswa, belajar perlu dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan dan bukan sekedar untuk mendapatkan ijazah akan tercapai.

Thursday, May 27, 2010

Unpleasant Morning

Thursday, 27 May 2010
It's kinda bit hard to start the writing in a happy puppy story since what i had his morning was terrible. My Philippine friend asked me to accompany her to the immigration office. Okay, we went there and ghiiii so crowded. I already imagined unfriendly service form the officer since my friend, the philippino told me that she didn't get good explanation and good service. By brought me there she's expected to get more detail information. The officers, some of them, they don't speak good English and give so little unclear information.
My friend wanted to get her ITAS (temporary stay permit), and she was assigned to come today. So, we went to the locket where we suppose to get as what the lady have told her. But then she asked us to go to the other locket. All right, we went there and she's not there. Her friends told us that she went out to the canteen. Gosh!! At 8:15 in the morning when she's supposed to work?
After waiting for several times, she came back, we handed the receipe and she complained in a high tone of voice that we're late. She would need lot of time and blah blah blah in a very unpleasant way of speaking.
I asked her what time we should get it back. She said that it needs to be stamped by the boss and the boss might be away and blah blah blah she needs to do this that those these. Well i just asked her what time, it's enough to say at about 3, please come tomorrow coz it might take longer time, i'll notify you or something better, shorter, understandable.
We left her and went back to the previous locket with the younger lady officer. i told her that the "annoying lady" needed more time, then what should we do, should we wait or we just came again in the afternoon. She then asked my friends' phone number so she could give a notification if the ITAS has already finished.
So, lesson for today is:
1. Government officer paid by the people's money but they don't serve the people well.
2. Pegawai Negeri Sipil is a government officer or civil servant in English translation, it means they have to serve the people not yelling and complaining about their hard job (well you are paid!!!)
3. There should be an evaluation on the service quality of all department in this country.
4. If the Indonesian police (in Surabaya) has started to hear all the complain of Surabayanese about the "unpleasant service" of their department, regularly twice or three times a month during the day in a public park, why can't other department be so responsive as the police does?--> this is not the real lesson but question actually

May the future will be better

Wednesday, May 26, 2010

Talkative, Qualitative Research, and Love


25 May 2010,
Today's lesson is about woman, love and qualitative research. What a strange combination..but let see how it goes..
I called my boyfriend this afternoon and doing the bla bla bla on the phone. he is in another island right now. Then i was talking about Anas Urbaningrum, the new leader of a political party in Indonesia. He was one of my former univ alumni. i kept saying blah blah blah till i heard my boyfriend murmured and grumbled he said in a pathetic voice, "i was going to tell you something but you keep talking so forget about it." i knew he was upset because of my talkative way of speaking. then he lost his mood to talk with me, either do i. i planned to hang up the phone but then after almost ten seconds i heard his lazy voice telling something. Then i said bye and he said bye in a very unpleasant voice..overall he was upset and it was not the first time we fought for my talkative way of speaking.
i dropped some tears..i was upset. he knows well i'm talkative..instead of just be patient he directly showed his dislike on my speaking. i switched off my mobile (for recharging actually). and i cried...i was having my period so ..easily become so emotional...that's nature.
Then i remember what my lecturer question,"Why women talk more than men?"
It is because naturally, woman are nurturer. She nurtures her children, she prepares, and guides, and teaches her children to do many things..and those things done by talking to her children.By talking not by doing the body language. Woman sings more than man as she tries to make her children feel comfortable in their bed to sleep. Woman asks the children to do this and that as a life-learning process...
So men, why are so grumbling about how talkative your partner is. If it's not the talking about somebody else talkativeness, criticizing all the time talkativeness, prejudice talkativeness, discriminative talkativeness..then why bother?
Sometimes i have too many words to say in my mind..it's just..naturally woman talks more than man.
****
In the evening when i had my class, it was the qualitative research class, we were on a discussion about ethnography. ethnography is about find out more about people's behavior. We try to investigate to search certain kind of behavior of a specific things. In educational research, an example of ethnography study is when i know what makes the students noisy during the English class. i observe their behavior in the classroom. i try to find the meaningthat's the simple thing.
A qualitative research is about finding "the meaning." this is a good example for my lecturer Prof. Ngadiman, if you're in a relationship you want to know whether your boyfriend is really in love with you or not. you can not just see it. it is something intangible. you can not measure it by touching or seeing. you can measure it, you can assess it by get the meaning of whatever your boyfriend does. you try to know what does it mean when he gives you some presents for instance. This is an exploration to know the real him. to really know what love is. to really know whether he loves you or not. this is a qualitative research. you need to get the meanings upon some actions.
The most important thing, it won't take days or months...even years..or the rest of your life... A qualitative research takes longer time compare to quantitative research. you'll find out whether your partner really loves you during your dating time, then even after a marriage you'll find out whether he still loves you or not. If after 10 years he cheated you..you'll know that he doesn't really loves you. Then when will the "research" of his true love stop? Till death do both of you apart.
What a nice thing to correlate qualitative research to basic life matter..and it's just wonderful for me to know that the searching of true love will end when we die.
So lessons for today are:
1. I am talkative
2. Woman talks more than man because naturally she has been given nurture skill by God to raise, guide and protect her children.
3. Ethnography emphasis on people's behavior.
4. If you're a teacher try to find out what does the "noisy class" mean.
5. Qualitative research focus on the process not the product, it's about meaning
6. The real application of qualitative research is our romance journey.

Monday, May 24, 2010

Giving = Happiness


Monday 24 May 2010
Today's lesson is about happiness. i used to think that happiness is something that i should search for, and i used to believe that it will come when i push myself to find it. it has to be created, if i was unhappy so there wasn't any happiness around.That is what i believed, but now i believe on "other happiness".
I listened to my radio (cellphone's radio) and i listened to my fav station, Suara Surabaya FM 100 (check this one, recommended). There's a feature called "Titik Nol" where a speaker, usually well-known people of many different field of expertise, talks in a wise nobble voise about good motivational things, mostly are inspirational ones. What i heard today from a man whose name is already forgotten by me is that "Kita hidup dari apa yang kita dapatkan tetapi kita bahagia dari apa yang kita berikan." "We live by what we earn but we are happy by what we give" he quote this from Churchill.
This is the first time in my life someone told me that happiness is not something that you can find, but you get it by what you give to others. When we're driving in rush but we stop our car to let the pedestrian crosses the street, this is an example of what the speakers told me on the radio, this is happiness. OK, it should be happiness when i let a pedestrian to cross the street, i give him/her something...
Allright then, so happiness is a matter of giving. When we give then we should be so happy, happier than when we don't give any,
And today thought me something. When i wanted to go out to buy some meals for my breakfast i saw an old lady sitting in front of my boarding house's gate. i was bit surprised since no one ever sit on the ground in front of the gate before. i thought the lady was exhausted and need to rest for a while because her appearance look fine though i know she's not wealthy enough. i decided to wait for her for a few minutes, while waiting i looked at her from the window. I can see that's she's so old and skinny, she was sitting while counted her money. i saw several thousand of rupiahs, she tried to fix the wrinkled paper money. Then she tried to search in her other small fabric bag. She drooped some coins. At that time i realized she's a beggar. Then she was sitting and drank a cup of water.
I went inside my boarding house to get some money to buy the food. Coz i was so hungry i intended to asked the lady to move a bit because i couldn't open the gate. Then i asked her in my very polite way, in a simple javanese sentence "Ma'am.." she didn't hear anythiong till i repeated three times. "Ma'am, excuse me i need to go out."
She was a bit surprised and when she looked at me, i looked at her directly in her eyes and i saw a very old lady in misery. It might be my own interpretation since i don't know how miserable she is. But from her eyes i just took a pity on her.
I thought about my 5000 rupiah in my hand but i thought i would give her later after i bought the meal. She suddenly got up and she dropped two coins. i just walked and passed her and closed the gate.
When i was in a warung to get the meal i realized how cruel i was. I had almost 15000 in my hand and i was going to spent them for meal while the old lady i met might be starving and she must be so tired walking and begging. But i also quite sure that she might have been gone when i got back to my boarding house. And, i was right..she's not there. i knew it coz i just felt that she might think she's been asked to move away coz she's blocking the gate.
I don't know why but i felt so guilty. i supposed to help her. Don't care whether begging is not good, but i just remember the way she looked at me..i would never forget her eyes...i was so so stupid. I felt my throat chocked and i wanna cry when i re,ember her eyes, even now when i'm typing this.
There are 3 lessons i learned today:
1. You don't looking for happiness, happiness is out there no need to find it.
2. Get the happiness as many as you can by giving others.
3. If you wanna help someone never think twice, just never think twice